1 Nov 2010

Rasaku... Biarkan saja!

Menapaki jalan diantara rinai hujan yang bergegas kuyupkan bumi. Mencoba, leburkan kenangan yang terasa getir diujung hati. Aku tunggu kau persis seperti saat ini, berhujan hanya tanpa ledekan kilat mencemooh malam yang menghiba mendung bebaskan gemintang. Saat rasa cintaku masih sangat polos dan tanpa hasrat meminta, hanya memberi tanpa henti, terus menerus walau tak berbuah hati.

 Karena jika benarbenar ada rindumu itu, kemarilah dan rengkuh aku. Sudah sejak tadi sekali aku menunggumu di semenanjung hati yang kini mulai gerimis. Atau, sekedar terucap namaku dalam gerak bibirmu yang memang kutahu itu bukan sekedar tidak mungkin tetapi bahkan mustahil.

 Ingin sekali kurebut dompetmu dan lantas seraya tergesa memajang foto buruk rupaku disana. Tak peduli kau suka atau tidak.

Sayang, kalau boleh kupanggil kau begitu, rasaku padamu makin menjulang tanpa alasan, jauh melebihi awan. Utuh dan sepertinya apa adanya. Manis selayaknya madu putik bebunga surgawi sekaligus laksana kanker hati yang mungkin stadium akhir? Tapi, jangan risau, karena rasaku ini, seperti biasa tak perlu jawab. Biar saja…. Karena, ia bagiku samudera kata yang tiada bertepi.

0 komentar:

Posting Komentar