12 Agt 2012

~entah takut atau bahkan benci mencinta

Dedaun masih saja menggelayut manja pada angin disepertiga malam ini, sepi pun semakin liar tak terkendali. Seekor kenari, menggigil kedinginan didalam sarang yang taklagi utuh. Paruhnya yang pucat bergetar menahan sedusedan, sementara dengan sebelah sayap ia usap airmata dikedua matanya.

Kini, hanya ada ia, sebatang kenangan dan seutas perih menjerat hati. masih jelas terasa sedikit perih dalam sanubarinya. Ya, meski tlah lampau terlewati... Entah mengapa.

Pernahkah selintas saja kau pikir, bagaimana perasaan seekor burung kenari muda yang dengan segenap rasa kasih, membangun sarang bermodalkan peluh serta lelah, tak menghiraukan paruhnya berdarah tergores ranting kering serta dengan telaten merangkai helai demi helai rumput hanya untuk membangun peraduan bagi betinanya, calon ibu anakanaknya kelak. Sementara sang betina? Sibuk mendaratkan paruhnya pada paruh entah pejantan mana lagi, membiarkan bulubulu halusnya dijamah dengan penuh nafsu dan dengan sungguh taktahu malu terbang meninggalkannya tanpa setitikpun airmata!

Bertahuntahun telah terlewati sampai suatu ketika ada seekor kenari muda bertanya mengapa ia tak pernah tampak memadu kasih seperti kebanyakan kenari lainnya.

Dengan tanpa ekspresi ia menjawab,

~aku, entah takut atau bahkan benci mencinta.

0 komentar:

Posting Komentar